Tips SBMPTNSBMPTN

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dan Penyempurnaan dari EYD

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dan Penyempurnaan dari EYD

Ejaan Bahasa Indonesia atau yang biasa disebut EBI merupakan pedoman untuk pengejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar yang  berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Adapun berikut adalah aturan-aturan yang dicakup oleh EBI:

  1. Penulisan Huruf
  2. Penulisan Kata
  3. Penulisan Unsur Serapan
  4. Pemakaian Tanda Baca

1. Penulisan Huruf di Ejaan Bahasa Indonesia

Di dalam penulisan huruf, penerapannya  terbagi dalam dua bagian yaitu penulisan huruf kapital dan huruf (cetak) miring yang akan didetailkan sebagai berikut:

Huruf Kapital

  • Awal Kalimat
  • Awal Kalimat Langsung
  • Hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan (nama agama, nama Tuhan/kata ganti untuk Tuhan)
  • Gelar dan jabatan yang diikuti nama diri
  • Istilah geografi yang diikuti nama diri dan bukan menyebut nama jenis
  • Nama hari, bulan, dan tahun
  • Nama suku, bangsa, dan bahasa
  • istilah kekerabatan yang digunakan sebagai bentuk sapaan

Huruf (cetak) miring

  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
  • Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, suku kata, kata, atau kelompok kata.
  • Dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaanya.

2. Penulisan Kata di Ejaan Bahasa Indonesia

Di dalam penulisan kata terdapat 5 bagian yaitu kata turunan & gabungan kata, kata depan, partikel, angka dan lambangan bilangan, serta singkatan dan akronim yang akan didetailkan sebagai berikut:

Kata Turunan & Gabungan Kata

  1. kerja sama
    bekerja sama
  2. tanda tangan
    tanda tangani
    menandatangani
  3. antarkota
    Antikorupsi
    pascasarjana
    nonblok
    anti-Amerika
    pasca-5 Juli 1997
  4. saputangan
    olahraga
    matahari
    kacamata

Kata Depan

Penulisan kata depan dipisah dengan kata yang mengikutinya.
Contoh: Di mana dia tinggal?

Partikel

  1. Partikel -lah, -kah, -tah ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  2. Partikel pun harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Akan tetapi, ketika berfungsi sebagai kata hubung pun harus digabung.
  3. Partikel per harus dipisah ketika bermakna tiap-tiap/setiap

Angka dan Lambang Bilangan

  • Untuk menyebutkan bilangan dan jumlahnya kurang dari tiga kata maka harus menggunakan huruf. Contoh: Ada seratus orang.
  • Penyebutan bilangan dan jumlah kata nya kurang dari dan sama dengan tiga kata menggunakan angka. Contoh Ada 25 orang.
  • Tidak bisa mengawali kalimat
  • Meskipun terdiri kurang dari tiga kata tetap ditulis dengan angka kalau menunjukkan rincian. Contoh: Ia membeli 2 sapi, 6 kerbau, dan 12 kambing.

Singkatan dan Akronim

  • Singkatan umumnya dieja. Contoh: MPR ; S.H ; Yth ; a.n ; cm
  • Akronim dibaca dan tidak ada tanda baca. COntoh ABRI, Depkes, Pemilu.

Tanda Baca di Ejaan Bahasa Indonesia

a. Titik (.), digunakan pada akhir kalimat penyataan; pemisah jam, menit, dan detik; dalam daftar pustaka; pemisah bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah

b. Koma (,) adalah perincian yang lebih dari dua hal, pemisah nama dengan gelar, mengapit keterangan aposisi. Contoh: Teman saya, Ahmad, pandai sekali

c. Titik Koma (;) Menandakan bentuk kalimat yang sejajar, dapat mengganti kata hubung KMS. Contoh: Malam tambah larut; pekerjaan belum selesai juga.

d. Titik Dua (:) Untuk perincian pada kalimat yang telah selesai. Misalnya : Adik membeli alat tulis: pensil, pulpen, dan buku

e. Pisah (–) Dapat berarti sampai, sampai dengan, atau dapat juga mengapit keterangan di tengah. Contoh: Jakarta — Merak, 08:00 — 12:00

f. Hubung(-) Untuk bentuk ulang atau bentuk terikat ketika bertemu dengan angka atau huruf kapital. Contoh: mem-PHK, pasca- 7 Juli.

g. Petik (“…”) Untuk bentuk kalimat langsung, mengapit judul tulisan, mengapit julukan. Contoh: Karena warna kulitnya, ia dipanggil “Si Item”

h. Petik tunggal (‘…’) Menunjukkan makna kata atau untuk mengapit petikan di dalam petikan langsung. Contoh: Politik devide et imprera ‘adu domba’ pernah merajalela di negeri ini.

i. Apostrop (‘) untuk bentuk singkatan atau pemendekan. Contoh: 2013 -> ’13

Comment here