Gempa Bumi

Gempa bumi ialah getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam. Dilihat dari intensitasnya, ada dua macam gempa sebagai berikut.

  1. Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa menggunakan
  2. Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil dan hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat

Hal ikhwal mengenai gempa bumi ini perlu diselidiki agar akibat yang ditimbulkannya dapat diramalkan dan upaya penanggulangannya dapat dilakukan. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombang-gelombang seismik serta perambatannya disebut seismologi.

Dalam kajian seismologi ini diperlukan berbagai alat. Salah satu alat yang terpenting ialah seismograf

atau alat untuk mencatat gempa.

Ada dua macam seismograf, yaitu sebagai berikut.

  1. Seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah
  2. Seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah

Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo gelombang tektonik dicatat oleh seismograf dengan menggunakan skala Richter.

Skala Ciri-ciri
2,0 – 3,4 tidak terasa, tetapi terekam seismograf
3,5 – 4,2 hanya terasa oleh beberapa orang
4,3 – 4,8 terasa oleh banyak orang
4,9 – 5,4 terasa oleh semua orang
5,5 – 6,1 sedikit merusak bangunan
6,2 – 6,9 merusak bangunan
7,0 – 7,3 rel kereta api bengkok
7,4 – 7,9 kerusakan hebat
≥ 8,0 kerusakan luar biasa

Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini telah ditemukan beberapa cara untuk mengetahui pusat gempa, yaitu sebagai berikut.

  1. Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf, yaitu satu seismograf vertikal, satu seismograf horizontal yang berarah utara-selatan, dan satu lagi seismograf horizontal yang berarah timur-barat. Dengan tiga seismograf ini akan ditemukan letak
  2. Dengan menggunakan tiga tempat yang terletak dalam satu Ketiga tempat yang terletak dalam satu homoseista itu dihubungkan, kemudian ditarik garis sumbu pada garis yang menghubungkan tempat- tempat pencatatan.
  3. Dengan menggunakan tiga tempat yang mencatat jarak episentrum. Cara ini dicari dengan rumus Laska, yaitu:
∆ = {(S – P) – 1} x 1 megameter

∆       = jarak episentrum

S – P = selisih waktu pencatatan gelombang primer dengan gelombang sekunder, dalam satuan menit.

Misalnya:

Kota X mencatat jarak episentrum 5000 km Kota Y mencatat jarak episentrum 7000 km Kota Z mencatat jarak episentrum 4000 km

Dengan data tiga episentrum di tiga kota, kemudian kita ambil peta yang sesuai skalanya. Letak episentrum akan didapat dari perpotongan tiga lingkaran. Dengan diketahuinya pusat-pusat gempa akan bermanfaat dalam pembangunan di daerah yang rawan gempa.

Di Jepang misalnya di daerah yang sering terjadi gempa, rumah- rumah dan gedung-gedung telah dibangun dengan konstruksi yang lebih tahan terhadap gempa dan masyarakatnya telah dilatih cara-cara menyelamatkan diri dari bahaya gempa. Dengan demikian, bahaya yang lebih besar dapat diatasi. Memang tidak mungkin mencegah terjadinya gempa, tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi setidak- tidaknya dapat mengurangi bahaya yang ditimbulkan.

Bila terjadi gempa bumi di laut dengan kekuatan di atas 7,0 skala richter dapat menimbulkan gelombang tsunami yang mengancam korban manusia, seperti di Aceh tahun 2004 dengan korban lebih dari 200.000 orang dan di Pangandaran tahun 2006 lebih dari 700 orang.

Muhammad Febric Fitriansyah: Aktif nge blog sejak 2008. Sekarang kerja di salah satu digital advertizing company. Spesialis dalam monetisasi website dan Aplikasi. Certified with Google ADmanager, Google Admob, and Google Analytics

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*