Cerita Mistis – ‘Parakang’ Merebut Janin dalam Tubuhku

Aku tak akan menyebut nama dan tempatnya dengan jelas. Tertulis dari beberapa waktu yang telah terlewat.

Dari desa terpencil sebut saja Takama, jauh dari perkotaan dan hiruk pikuk manusia. Hanya beberapa manusia saja.
Malam itu tak tampak bulan ataupun bintang. Sedikit suara burung hantu dan anjing bersahutan.
Hanya ada aku dan lampu lentera di sini memang tak ada listrik.

Hujan semakin menambah lembab dinding bambu rumah ku. Bahkan sarung peninggalan nenek tak bisa meredakan dinginnya. Suamiku belum juga pulang dari kota.

Aku tak tahu sudah jam berapa ini. Hanya saja malam semakin larut. Bahkan tetangga pun mulai senyap seperti sudah tertidur. Sebenarnya aku takut. Karena janinku terus menendang.

Seakan tak nyaman dalam gelap. Aku coba menenangkan dengan elusan lembut pada perut sambil mendendangkan lagu Kisah Semalam.

Suaramu seakan menepihkan sunyi.

Tiba-tiba lentera ku meredup. Terkena air dari atap yang bocor. Aku pun dalam kegelapan.

Hujan semakin deras. Suara burung hantu dan anjing bersahutan semakin keras. Seakan tak ingin mengalahkan hujan.

Aku menggigil. Semakin takut. Terlebih ancaman dari legenda yang kadang mengganggu.

Parakang orang menyebutnya.

Pikiran ku semakin kacau. Membayangkan tangan kasar hitam,kuku panjang mereka perutku.

Dan benar saja. Apa yang ku takutkan terjadi.

Pintuku seakan di robek. Maklum saja, hanya terbuat dari bambu.

Aku tak berani menoleh ke belakang.

Sungguh aku hanya berdiri membelakangi pintu sembari membungkus diri dengan sarung.

Tak ada lagi rasa dingin. Keringatku bercucuran.

Panas dan gerak ku rasakan. Aku melindungi diri dengan bacaan ayat kursi.

Semakin kencang dilantunkan. Berharap ada yang mendengarku dan segera datang.

Ternyata, kepalaku sudah ditetesi darah dari parakang itu.

Aku berlari ke tempat tidur.

Langkahku memuluskan jalannya.

Setan biadab itu menggerayangi selangkanganku.

Aku merasa kesakitan yang teramat.

Darah mengucur deras, dia memakannya dengan mentah.

Janinku…

Teriakku lirih…

Parakang itu membabi buta, penuh darah. Rambut tak bersisir, mata merah nan tajam, darahnya hitam.

Aku menangis….

Kesepianku tak bertepi

Suamiku belum juga pulang

Anak ke tiga kami sudah tiga kali pula di renggut parakang…

Aku lemas tak berdaya, hingga tak sadarkan diri.

Ketika pagi ku terbangun, semua sudah ada di rumah ku…

Begitupula suamiku…

Tapi, semuanya tak memperdulikanku…

Ternyata bukan janinku saja yang terenggut…

Nyawaku ikut disantapmya…

Ku terdiam membiru, kaku tak berdaya….

admin:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

Related Post