Sosiologi

Sejarah Sosiologi

Sejarah Sosiologi

Sejarah Sosiologi Carisemuaja.com – Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antar manusia dalam hidup bermasyarakat. Secara etimologi (Ilmu asal kata), sosiologi berasal dari kata socius (bahasa latin) yang artinya teman atau kawan dan logos  (bahasa Yunani) yang artinya kata, berbicara atau ilmu pengetahuan.

Secara singkat sosiologi ilmu pengetahuan tentang masyarakat dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks kekuatan, hubungan, jaringan interlasi, serta sebagai kompleks lembaga/pranata.

Sosiologi juga melihat individu-individu yang saling berhubungan dan membentuk kelompok-kelompok yang pengaruhnya besar terhadap kelakuan dan pola kelakuan bagi individunya

Masyarakat memiliki banyak aspek yang bisa dipelajari oleh para pemerhati sosiologi, karena masyarakat merupakan kumpulan manusia yang saling berinteraksi.

Konsep Dasar Sosiologi

Secara ringkas konsep-konsep dasar sosiologi yang di masyarakat ialah :

  1. Perubahan sosial
  2. Ketertiban dan Pengendalian sosial
  3. Sosialisasi
  4. Organisasi Sosial
  5. Mobilitas sosial
  6. Masalah-masalah Sosial.

Sosiologi adalah ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosial yang dikenal. Auguste Comte ahli sosiologi dari Perancis memper-kenalkan kata “sosiologi” dalam bukunya “Positive Philosophy” yang diterbitkan tahun 1838.

Di Inggris Herbert Spencer dalam bukunya “Principle of Sociology” tahun 1876 menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang “evolusi sosial” yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian.

Seorang Amerika, Lester F. Ward menerbitkan buku “Dynamic Sociology” dalam tahun 1883, menghimbau kemajuan sosial melalui tindakan-tindakan sosial yang harus diarahkan oleh para sosiolog. Emile Durkheime, seorang ahli sosiologi Perancis memberikan sebuah. Demonstrasi tentang metodologi ilmiah dalam sosiologi. Dalam bukunya Rules of Sociological Method yang diterbitkan tahun 1895 ia menggambarkan tentang metodelogi sosiologi.

Sejak abad ke-19, Eropa merupakan wilayah yang mengalami perkembangan peradaban paling pesat sebagai pusat tumbuhnya peradaban dunia. Proses perubahan sosial berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kondisi masyarakat Eropa menarik perhatian para ilmuan untuk mengkaji berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Abad 20 sosiologi berkembang pesat di Amerika Serikat. Pada masa ini di Amerika Serikat tumbuh kota-kota besar, industri-industri besar dan gelombang migrasi besar-besaran. Akibat dari pertumbuhan perkotaan ini menimbulkan gejolak dan perubahan sosial yang besar dan kompleks. Kondisi demikian menjadi kajian para ahli sosiologi untuk menemukan pendekatan baru, sehingga melahirkan sosiologi modern.

Fase Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Secara garis besar perkembangan Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri dapat diuraikan secara kronologis dalam empat fase atau empat periode.

  1. Tingkatan pertama ini dimulai sejak zaman keemasan sampai den-gan abad pertengahan
  2. Masa ini dimulai sekitar abad ke 16 sampai abad ke 17, saat individualisme berkembang di Eropa.
  3. Masa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang berdiri sendiri, tetapi menggunakan metode-metode ilmu pengetahuan lain. Masa ini merupakan kelanjutan dan perluasan pandangan sosial psikologis realistis abad ke-18.
  4. Masa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, memiliki sasaran dan metode yang khusus yang mencerminkan sebuah ilmu pengetahuan yang mandiri, yaitu abad ke 19.

Istilah sosiologi banyak dibicarakan oleh para pemerhati sebagai bidang pengamatan yang baru sejak sekitar tahun 1830-1854. Auguste Comte (1798-1857) adalah seorang filsuf Perancis pertama yang menggunakan istilah “Sosiologi” untuk menyebut ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Comte memberikan nama itu pada tahun 1839 dan diterbitkan dalam bukunya yang terkenal pada tahun 1942 dengan judul Cours de la Philosovie Positive. Menurut Comte ilmu pengetahuan harus sistematis, logis, dilakukan menurut tahap-tahap tertentu (metodis) dan objektif.

Ilmu Pengetahuan bersifat objektif apabila memusatkan perhatiannya pada gejala gejalanya dan konkret, tanpa ada pertimbangan lain yang menghalangi untuk dapat mengungkap kebenaran fenomena yang terjadi, sehingga memungkinkan ilmu pengetahuan dapat berkembang dan diuji kebenarannya oleh pihak manapun.

Comment here